Di pertengahan tahun 2026 ini adalah fase dimana saya rindu untuk menulis di website pribadi. Vibes dimana blogging tidak harus selalu SEO, tidak harus selalu mengejar keyword dan intent, tidak harus selalu memikirkan snippet, tulisan yang dibuat memang untuk dibaca manusia. Memang itu sepenuhnya tidak salah, tetapi bagi saya pribadi, menelusuri sesuatu di mesin pencari bukan berarti saya ingin mencari informasi, mengetik kata kunci di mesin pencari bukan berarti saya ingin membeli sesuatu. Kadang saya juga ingin membaca tulisan dengan suasana bercerita.

Sayangnya, website dengan vibes khas seperti yang saya ceritakan diatas sudah jarang sekali saya temukan. Rata-rata website sekarang lebih fokus SEO optimized, ramah dibaca mesin meskipun tak jarang diikuti trade-off kurang ramah untuk manusia. Mungkin masih ada teman-teman yang masih aktif menulis karena alasan hobi seperti saya, saya ingin sekali berkunjung.

Inisialisasi Blog Pribadi

Oleh karena keresahan saya pribadi itu, terlintas pikiran "gimana kalau seandainya saya mulai lagi blog pribadi dengan gaya penulisan khas bercerita layaknya blog 2010s? sepertinya akan menarik". Dari pikiran itulah saya akhirnya bergerak dan mulai mengumpulkan ide tech stack apa yang dipakai, di layanan hosting mana saya akan menghidupkan blog, dan kandidat nama domain yang akan menjadi alamat blog. Saya juga pernah menulis alasan detail kenapa blog ini dibuat, tulisannya bisa diakses disini.

Rincian Tech Stack Yang Saya Pakai

Saya akan mulai membahas tech stack yang saya pakai untuk menghidupkan web ini bersama alasan kenapa saya memilihnya.

SvelteKit

Ya, saya tidak memakai Wordpress untuk membangun web ini, website yang sekarang teman-teman akses adalah SvelteKit. Apa itu SvelteKit? SvelteKit singkatnya adalah sebuah framework yang dibangun diatas Svelte untuk pengembangan pemrograman web. Untuk lebih detailnya silahkan teman-teman lihat di dokumentasi resmi.

Saya memilih SvelteKit karena ukuran bundle yang relatif kecil, sehingga cocok untuk static site, tetapi tetap menawarkan interaktivitas jika diperlukan. Ini penting bagi saya karena siapa tahu ke depannya situs ini membutuhkan halaman dengan interaktivitas yang lebih dinamis.

Shadcn UI

Untuk komponen UI sendiri saya pakai Shadcn UI, alasannya karena saya tidak terlalu mahir men-design tapi ingin frontend tetap cantik dan rapi. Saya bisa pakai komponen siap pakai dengan sedikit kustomisasi supaya sesuai dengan tema yang sudah saya pilih, dan menjaga aksesibilitas tetap bagus.

Content Management System

Salah satu tantangan yang saya alami membangun blog ini adalah saya kebingungan memilih CMS. Satu sisi saya ingin website ini tetap mudah dirawat, tetapi juga ingin pengelolaan konten tetap rapi. Saya sempat mencari tahu dan mempelajari headless CMS yang banyak tersedia, tapi rasanya terlalu kompleks dan terlalu over-power memakai headless CMS tetapi isinya hanya curhatan si penulis. Di sisi yang lain, membangun endpoint /admin juga berarti menambah kompleksitas saya merawatnya. Saya memerlukan database, yang berarti menambah layanan lagi, dan saya harus jaga endpoint ini secara rutin.

Setelah banyaknya pertimbangan, saya memilih membuat konten langsung dari repositori, secara teknis bisa disebut file-based content management. Jadi sederhananya, saya buat sebuah file di suatu direktori dalam repositori, kemudian file itu di-render sebagai sebuah halaman. Dengan cara ini, saya mendapat posisi yang seimbang antara kemudahan merawat kode sumber, dan menutup celah keamanan yang bisa saja terbuka tanpa saya sadari. Bukan berarti selalu aman, hanya saja memperkecil.

Hosting

Untuk website ini bisa hidup di internet dan diakses publik, tentunya hosting salah satu stack yang paling penting. Proses menentukan layanan hosting jenis apa dan dimana website saya akan di-host, saya juga perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti seberapa kompleks sebuah website, traffic yang bisa ditangani, keamanan terhadap serangan, dan seberapa kompleks merawatnya. Karena website ini hanya sebuah blog berisi tulisan pribadi yang tidak terlalu saya optimalkan untuk SEO, jadi kemungkinan akan jarang menangani traffic dalam jumlah besar, dibangun oleh SvelteKit, dan file-based content, pilihan saya jatuh kepada Cloudflare Workers, yaitu layanan serverless dari Cloudflare.

Kesimpulan

Sebagai orang yang terbiasa menggunakan Wordpress untuk membuat blog, ini adalah pengalaman saya setidaknya 3 kali mengelola sebuah website/blog tanpa CMS. Saya bukan seorang developer, saya hanya orang yang penasaran. Website ini juga tidak saya tulis kodenya semuanya sendiri. Saya memakai bantuan AI untuk membangun blog ini dan itulah cerita saya membangun blog maffei.my.id..